Kisah Developer Rumah Yang Penjualannya ‘Mandeg’, Pentingnya Etika dan Trust Dalam Berbisnis

317 Views
Read Time:4 Minute, 8 Second

Ketika kita melakukan bisnis, terkadang kita lupa akan hal-hal penting dalam berbisnis. Dua diantaranya yang saya pelajari adalah pentingnya seorang pebisnis memiliki etika bisnis dan menjaga kepercayaan klien atau konsumennya. Itulah mengapa sebelum saya menekan kontrak proyek dengan klien, berbagai hal saya pastikan. Dalam kasus saya, saya berusaha memastikan mulai dari kesepemahaman fitur aplikasi yang akan dikembangkan, kapabilitas tim dalam mengerjakan permintaan klien, hingga garansi yang diberikan oleh SUM Tech Consulting. Mentor bisnis saya sendiri selalu menekankan dua hal ini, karena akibatnya memang bisa fatal.

Saya ambil kasus sebuah developer perumahan yang sebenarnya dapat dikatakan sebagai developer ‘nakal’.

Dalam kondisi pandemi seperti ini, otomatis bank akan menurunkan plafond pengajuan KPR dikarenakan bank memilih sikap wait-and-see. Bagi developer maupun customer yang tidak bisa membayar cash, jelas saja hal ini merugikan karena bisa menghambat proses pembangunan dan pengajuan yang sudah dilakukan. Customer yang turun plafond otomatis harus menambah DP bukan? Mungkin customer yang mengambil satu rumah saja tidak terlalu berat. Namun bagaimana dengan customer yang mengambil dua rumah? Booking fee dan DP yang sudah masuk tentu atas jerih payah customer. Maka, diperlukan tingkat kemengertian dari si owner bukan untuk kasus ini? Sayangnya, hal ini tidak terjadi.

Yang justru saya lihat dalam kasus ini, baik business owner maupun karyawan developer melakukan tindakan kurang terpuji yang sebenarnya dapat berakibat besar:

1. Developer menyampaikan biaya-biaya diluar biaya KPR, berbeda dengan pernyataan di awal melalui pihak marketing. Biaya ini mengulang dua dari berbagai komponen biaya KPR yang ada, yang dimana sebenarnya dalam kasus angkat kredit rumah tidak ada biaya ini (biasanya, biaya ini disebut biaya ghaib atau hehehehe…. Kalau mentor saya nyebutnya biaya korup 😁).

2. Ada customer yang mengajukan dua rumah, karena turun plafond customer hanya bisa mengambil satu rumah. Namun yang dilakukan developer ini justru hendak menghanguskan biaya booking fee beserta DP sebesar 50%. Padahal dalam SPR tertera kalau tidak jadi mengambil rumah, bukan hanya apabila customer hanya mengambil salah satu. Akad SPR dibuat ambigu sehingga pasal dapat didefinisikan sesuai keinginan developer.

3. Ketika customer mengajukan untuk banding agar DP tidak hangus dengan hanya mengambil satu rumah, justru customer diberikan perkataan yang tidak layak dan dimarahi oleh business owner. Kemudian, ketika customer ingin membicarakan win-win solution, customer justru disuruh dateng ke rumah owner. Customer diperlakukan seperti pengemis agar uangnya tidak hilang, lokasi kediaman owner pun diketahui publik. Bukankah lokasi tinggal sangat rawan didatangi customer yang sakit hati?

4. Materi marketing yang sejak awal diberikan justru berbeda dengan eksekusi developer. Contohnya, developer menjanjikan listrik 2200V dan bisa akad inden, namun ternyata semua itu hanya omong kosong belaka. Tim marketing (yang notabene bukan dari developer asli alias makelar properti) pada akhirnya mendapat banyak complain dari customer.

5. Pembangunan perumahan mundur dari deadline yang diberikan dengan spesifikasi rumah yang tidak sesuai janji. Ketika customer melakukan complain ke developer, customer justru hanya disuruh complain ke pimpinan proyek. Padahal, pimpinan proyek pasti merupakan pihak yang ditunjuk oleh developer bukan?

6. Proses tidak satu pintu, internal tim sendiri kacau. Tim marketing, dokumen, tidak mengenal satu sama lain. Sehingga customer dilempar sana-sini oleh developer. Tidak ada sistem satu pintu dan proses berbelit-belit. Siapa sih yang suka dilempar-lempar ketika ingin membeli sesuatu?

Sumber: https://img.beritasatu.com/cache/beritasatu/600×350-2/1454599250.jpg

Bagi pihak developer, mungkin mereka merasa tidak ada yang salah dan tidak akan berimbas pada penjualan mereka. Tapi, business owner lupa bahwa di era digital saat ini, informasi sangat mudah diakses dan menyebar antara satu dengan yang lain. Bisa lewat review, rekomendasi, network dar customer, dan sebagainya. Karena, dalam hal ini business owner tidak memiliki etika dalam memperlakukan customernya (sudah bukan calon customer looohh….) dengan tidak baik ditambah customer trust yang dihancurkan.

Apa kira-kira akibatnya? Jelas saja…

Bagi calon customer yang dan hendak membeli, hal semacam ini akan membuat mereka resah dan tidak jadi beli. Siapa sih yang mau tetap angkat kredit kalau ditipu duluan?

Bagi customer yang sudah terlanjur angkat kredit, jelas saja akan merasa kecewa. Mereka yang merasa diperlakukan tidak baik akan memberikan review negatif dan menyarankan orang-orang sekitarnya untuk tidak membeli rumah disitu karena developer akan di cap sebagai ‘developer nakal’. Maka tidak akan terjadi mouth-to-mouth marketing karena produknya sudah dianggap gagal.

Bagi tim marketing luar yang direkrut, jelas saja hal ini memberikan trauma sendiri. Apalagi harus berhadapan dengan complain customer dan merasa ditipu oleh si developer. Jangan lupa bahwa biasanya, tim marketing itu memiliki jaringan sehingga mereka dapat menyarankan rekan-rekan mereka untuk tidak membantu menjual produk tersebut. Karena, selain koordinasi yang kacau, resiko besar gagal dapat komisi akibat customer mundur.

Apa yang terjadi pada developer tersebut? Yaaa jelas dapat kita prediksi bahwa penjualan mereka mandeg dan tentunya complain customer banyak sekali 😁

Mentor saya sendiri pernah berkata… “Uang bisa dicari. Tapi kalau kepercayaan sudah dirusak… AMSYONG BOSS!!”

Kamu pernah kena developer berjanji manis, nakal, atau properti bodong? Coba komen dan ceritakan kisahmu. Kita sharing bareng 🙂

Sumber: https://propertisyariahcirebon.com/wp-content/uploads/2018/04/Penipuan-di-Bidang-Properti.jpg

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post [Review] Innisfree White Pore Facial Cleanser EX
Next post [Review] Nature Republic Skin Smoothing Body Peeling Mist

5 thoughts on “Kisah Developer Rumah Yang Penjualannya ‘Mandeg’, Pentingnya Etika dan Trust Dalam Berbisnis

  1. Usually I do not learn article on blogs, however I would like to say that this write-up very pressured me to try and do
    so! Your writing style has been surprised
    me. Thanks, very nice post.

  2. Woah! I’m really digging the template/theme of
    this site. It’s simple, yet effective. A lot of times it’s difficult to get that
    “perfect balance” between superb usability and visual appeal.
    I must say that you’ve done a awesome job with this.
    Also, the blog loads extremely quick for me on Chrome.
    Excellent Blog!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *