92 Views
Read Time:4 Minute, 47 Second

Ingatkah saat aku bercerita mengenai saat aku memutuskan memberikan sufor pada Rafa di rumah sakit? Ya… itulah permulaan segala mimpi burukku yang panjang. Dimana untuk mencapai garis terangnya, aku harus berjalan melalui jalan berduri yang tajam.

Ketika awal Rafa tiba dirumah, aku tidak tau bahwa Rafa memiliki bingung puting total dan lip tie tongue tie yang paling tebal. Bingung puting memang terbagi menjadi dua, yaitu bingung puting parsial dan bingung puting total. Aku hanya menarik napas lega karena akhirnya tubuhnya berwarna merah. Maka, dimulailah aku dengan aktivitas menyusui Rafa.

Saat pertama kali mencoba menyusui Rafa, aku memakai nipple shield yang disarankan oleh dokter laktasi di rumah sakit tempatku melahirkan. Entah mengapa dokter itu tidak memberitahukan mengenai kondisi yang namanya bingung puting, lip tie tongue tie, dan justru menyarankanku pakai nipple shield yang aslinya sudah dilarang oleh Ikatan Kounselor Menyusui Indonesia karena maksimal hanya boleh dipakai 3 hari saja. Memakai nipple shield juga sangat menyulitkanku ketika menyusuinya. Aku mencoba googling berbagai cara untuk menyusui dengan puting yang datar dan sembari tetap memakai nipple shield. Tapi memang Rafa nyaris tidak mau memakai nipple shield sama sekali. Ku pikir, masalahnya adalah posisi menyusuiku yang salah. Karena frustasi, suamiku langsung booking konselor menyusui di klinik tempat aku memeriksakan kandungan.

Bodohnya, saat kami kesana, aku tidak membawa peralatan menyusuiku. Aku berpikir bahwa disana Rafa akan langsung bisa menyusui disana. Akhirnya Rafa menangis keras saat diajarin cara menyusu disana. Air mataku langsung mengalir deras tanpa bisa aku kontrol lagi. Sudah aku kurang tidur, aku terus menyalahkan kondisi fisikku yang memiliki puting datang. Konselor itu menenangkan Rafa sembari memberikan aku PR bahwa aku harus rajin skin-to-skin, narik puting pakai nipple puller, pumping ASI tiap 2 jam sekali, dan memberikan Rafa susu pakai cup feeder. Lagi-lagi konselor itu tidak cukup baik. Dia tidak memeriksa mulut Rafa, maupun menjelaskan dengan rinci mengenai makna dan cara skin-to-skin yang benar khusus bingung puting. Tapi, konselor itu memberitahukanku bahwa besar kemungkinan aku terkena baby blues.

Jangan suruh aku bersyukur. Beritahukan padaku cara menyusui anakku

Mamaku tiba-tiba menelponku saat aku masih dalam sesi konsultasi. Mama dan adikku terus menelpon berkali-kali padahal sudah aku reject. Aku benar-benar kesal karena ternyata mereka datang ke rumah tanpa pemberitahuan! Aku hanya menyuruh mereka menunggu dengan amarah dalam hati. Aku langsung mempertanyakan kedatangan mereka yang tanpa kabar sesampainya aku di rumah. Rasanya ingin ku lampiaskan semua amarahku pada mama dan adikku.

Mama menanyakan kondisiku, dan meminta kami pindah ikut mama. Ahh… Rasanya memuakkan. Aku menjelaskan sedikit kondisiku, uneg-unegku. Tapi apa yang kudapatkan? Mama dan adikku justru berkali-kali berkata bahwa aku harus bersyukur.

Aku muak! Sungguh muak dengan kata ‘bersyukur’! Bukan itu yang ku butuhkan saat ini! Aku butuh solusi! Bukan bersyukur!

Tangis dan amarahku akhirnya pecah. Aku memaki-maki mereka semua karena aku sungguh lelah. Aku tidak bisa tidur, ditambah aku harus beres-beres, kelaparan, dan aku merasa tidak ada yang benar-benar peduli padaku. Aku bingung cara mengurus bayiku, Ya Tuhan! Aku tidak bisa menyusuinya, dan aku tidak mengerti ada apa dengan diriku! Aku putus asa! Aku merasa seperti dilepas sendirian! Bahkan mertuaku yang tinggal sangat dekat denganku justru tidak datang dan membantu seperti nenek pada umumnya disaat mamaku jauh!

Aku bingung, Ya Tuhan!

Mamaku akhirnya meminta maaf dan memelukku dengan erat. Aku memohon-mohon pada mama sembari menangis deras untuk tinggal bersamaku setidaknya 3 hari saja. Awalnya, mamaku ragu untuk menginap karena mamaku sedang batuk. Tapi aku terus memohon dan meyakinkan mamaku bahwa mamaku tidak kena corona. Aku berkata bahwa sudah kusiapkan semua yang mama butuhkan seperti masker, hand sanitizer, disinfectan spray, hingga pakaian yang mama butuhkan. Akhirnya mamaku bersedia menemaniku.

Mama memperhatikan kondisi rumahku yang begitu berantakan dan tidak tertata. Bahkan mencari cup feeder saja kami sangat kesulitan karena kami menempati kamar tamu yang tidak memiliki perabotan apapun kecuali kasur dan tempat tidur. Mamaku menata ulang kamarku, meminta suamiku membawa beberapa perabotan dari lantai atas, dan meminta suamiku membeli beberapa perabotan lain. Mamaku juga menyusun kamar sedemikian agar aku mudah menjangkau semuanya saat mengurus Rafa. Mamaku juga mengajarkan cara memandikan Rafa yang ternyata jauh lebih mudah dari yang ku lihat di Youtube, cara membedong Rafa, merawat tali pusar Rafa yang sudah terlanjur lepas, dan semua skill yang harus aku dan suami ketahui kecuali menyusui.

Keesokan harinya, aku memeriksakan kondisiku ke Dokter Rangga. Beliau berpesan padaku untuk tidak memiliki sifat perfeksionis dalam mengurus bayi. Aku akan tetap menjadi ibu yang baik karena aku sudah mengusahakan yang terbaik untuknya. Bersyukurnya, kondisi jahitanku sangat baik meskipun masih terasa sangat sakit.

Bagiku, masa-masa saat tidak bisa menyusui Rafa secara langsung itu seperti di neraka. Dengan rasa sakit yang teramat sangat, aku harus bolak-balik berjalan kaki untuk memanaskan ASI maupun membuat sufor. Rasanya seperti dikejar waktu. Hasil pumping juga tidak banyak sehingga Rafa lebih dominan mendapatkan sufor. Rafa hanya bisa meminum sufor hypoallergic karena memiliki alergi susu sapi sepertiku. Bahkan aku tidak tau bahwa Rafa memiliki lip tie tongue tie. Yang curiga bahwa Rafa memiliki lip tie tongue tie adalah seniorku di kampus saat mengunjungi Rafa.

Aku tidak tau bahwa ternyata anakku menolak menyusu karena bingung puting total dan memiliki lip tie tongue tie yang sangat tebal

Dear para bunda, belajarlah dari kasusku, sebisa mungkin jangan memberikan botol dot pada bayi di usia dini. Jika kalian mengalami rasa sakit dan lecet ketika menyusui, bayi seperti tidak dapat menjulurkan lidahnya, pokoknya kalian kesulitan menyusui, segera temui konselor laktasi yang memiliki sertifikasi IBCLC. Mintalah konselor tersebut untuk mengecek apakah bayi kalian memiliki lip tie tongue tie. Ada yang berkata bahwa bingung puting adalah hal yang wajar. Percalayah, tidak semudah itu mengembalikannya. Prosesnya cukup panjang dan akan ku ceritakan di postingan berikutnya.

Untuk kalian yang ingin tau ciri-ciri bayi bingung puting, kalian bisa membacanya disini.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post [Review] The Body Shop Body Yogurt
Next post BPN 30 Day Ramadhan Blog Challenge 2021, Day-1: Dibalik Nama ‘Satu Sayap’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *