143 Views
Read Time:6 Minute, 43 Second

“Jika tuhan ingin menghukumku akibat kebodohanku, mengapa harus anakku yang terkena imbasnya?”

Memiliki anak memang sebuah anugerah. Tapi kurasa bagi sebagian ibu di dunia ini, selain anak disebut anugerah, memiliki anak juga berarti awal semua masalah yang datang bertubi-tubi. Seorang ibu yang terkadang harus memilih antara dirinya atau anaknya. Rela kurang istirahat demi mengasuh anaknya, rela gemuk dan mengalami body shamming agar anaknya lolos dari kriteria gizi buruk, dan lain sebagainya. Apalagi para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus atau memiliki masalah-masalah tertentu sejak dari lahir.

Mungkin sebagian wanita bahkan termasuk aku pada awalnya tidak pernah menyadari bahwa transisi dari seorang istri menjadi ibu begitu berat. Bagiku, menuangkan waktu 1×24 jam bagi seseorang yang masih terasa asing sungguh menguji keikhlasanku. Saat awal Rafa lahir di dunia, Rafa memiliki berbagai masalah yang menguras tenagaku dan suami baik secara fisik, mental, hingga finansial. Kami berkali-kali harus memutar otak untuk menutupi biaya-biaya yang dibutuhkan. Dan semua itu berawal dari hari kedua aku di rumah sakit.

Di hari kedua, ASIku masih saja belum keluar. Ditambah lagi aku kebingungan menyusuinya. Aku memiliki puting datar yang membuatku kesulitan menyusuinya. Aku bertanya pada suster bagaimana cara menyusui anakku. Tapi suster enggan memberitahunya. Entah karena sibuk atau memang tidak tahu cara menyusui dengan puting datang. Saat sore, kondisi Rafa tiba-tiba memburuk. Hasil tes darah yang tidak bagus membuat suster meminta aku memilih apakah aku tetap ingin membiarkan Rafa tidak menyusu dulu sampai aku bisa melakukannya atau diberikan sufor terlebih dahulu. Dengan berat hati, aku memutuskan untuk memberikannya sufor. Tentunya tanpa mengetahui konsekuensi panjang yang akan ku alami dengan pilihan tersebut. Rafa masih terlihat baik-baik saja meskipun aku sedikit bertanya-tanya mengapa kulit Rafa sangat putih hingga terlihat pucat tidak seperti bayi pada umumnya.

“Ah… Pasti karena Rafa memiliki keturunan Chinese.” batinku.

Kebodohanku yang tidak mengikuti kelas menyusui selama hamil mungkin bisa diambil hikmahnya oleh para ibu hamil yang membaca tulisan ini. Aku sudah membuat jadwal booking bidan untuk belajar menyusui yang seharusnya terjadi pada hari dimana aku melahirkan Rafa. Aku terlalu mengikuti saran orang tua bahwa tidak perlu sampai sejauh itu mempersiapkannya karena nanti akan bisa menyusui dengan sendirinya. Padahal aku sadar bahwa aku memiliki putting datar dan sudah berusaha menarik putingku selama hamil. Tapi baru kusadari kemudian bahwa menarik putting selama hamil bukanlah hal yang sangat dianjurkan.

Di hari ketiga aku di rumah sakit, jam 5 pagi aku mulai merasa demam. Demamku meningkat hingga mencapai 39,5 derajat celcius. Suster membawa anakku pergi dan beberapa suster terus menerus mengecek kondisiku. Suamiku terus memberikanku air putih agar aku tidak dehidrasi. Aku berusaha menurunkan suhu tubuhku demi bisa pulang membawa Rafa di hari itu juga. Bersyukurnya setelah jam 10 pagi, demamku perlahan mulai turun. ASIku pun mulai keluar sehingga aku bersiap untuk belajar menyusui lagi dengan dokter laktasi di rumah sakit itu. Pasca dzuhur, Dokter Rangga dating dan memeriksa kondisiku. Seperti biasa kami berbincang mengenai saham dan properti sambil memeriksaku. Dokter Rangga juga turut menggendong anakku dan mengajaknya berbicara. Sesekali beliau mengajakku bercanda dan mengecek kondisi payudaraku. Alhamdulillah payudaraku tidak mengalami mastitis. Dokter Rangga berkata bahwa penyebabku demam kemungkinan postpartum shivering, yaitu demam yang disebabkan trauma pasca melahirkan. Akhirnya Dokter Rangga berkata bahwa aku dibolehkan pulang dan izin pamit. Aku sangat senang dan bergegas merapikan barang-barangku. Suamiku turun ke lantai bawah untuk mengurus kepulanganku. Membayangkan kebahagiaan menyambut Rafa di rumah, aku hanya berpikir mengenai hal-hal membahagiakan bersama Rafa kecil. Sangat polos, bukan?

Namun kebahagiaanku langsung berubah menjadi kegelapan saat seorang suster dan dokter internis datang menghampiriku.

“Dengan Ibu Huda Jamilah Anak Rafardhan?” tanya dokter itu memastikan.

“Iya, dengan saya sendiri. Ada apa ya?” tanyaku heran.

“Bu, disini kami ingin menyampaikan hasil lab anak Ibu. Boleh minta waktunya sebentar?”

“Oh iya silahkan.”

Dokter dan suster itu membuka kumpulan berkas tebal dan mulai menjelaskan hasil lab Rafa. Rasanya seperti tersambar petir dan kepalaku menjadi kosong. Tatapanku bernanar melihat Rafa terbaring tidur sembari mendengarkan penjelasan kondisinya. Rafa ternyata sakit. Rafa memiliki infeksi yang sudah menyebar ke seluruh tubuhnya melalui darah. Aku berusaha menahan tangisku. Istilah baru yang tidak kumengerti, dan aku tidak dapat menangkap penjelasan mereka seutuhnya.

“Intinya, kami menyarankan agar anak Ibu dirawat. Silahkan didiskusikan dengan keluarga.” Mereka menyimpulkan karena menyadari aku dalam kondisi shock.

“Mengapa anak saya bisa kena infeksi Dok?” tanyaku.

“Besar kemungkinan tertular dari Ibu. Saya dengar, Ibu yang memiliki kasus ketuban dini, yah? Bisa juga dari situ.”

JGERR!!!

Jadi… lagi-lagi… KESALAHANKU?

Aku duduk termenung melihat Rafa yang tertidur seraya dokter dan suster pergi. Badanku lemas tak bertenaga. Kacau, hampa, semua menjadi satu. Mengapa anakku yang harus menanggung semuanya akibat kebodohanku? Aku merasa menjadi ibu yang gagal detik itu juga. Tuhan terlalu kejam menghukum anakku seperti ini. Aku tahu bahwa aku memiliki banyak dosa. Tapi, mengapa harus anakku yang terkena imbasnya? Mengapa tidak aku saja?

Dengan tangan bergetar, aku meraih ponselku dan menelpon suamiku. Dengan berlinang air mata, aku menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Suamiku bergegas menemuiku lalu menemui dokter anak Rafa saat itu, yaitu Dokter Maria. Dokter Maria menjelaskan bahwa Rafa harus dirawat inap selama empat hari. Namun durasi tersebut bisa lebih lama tergantung bagaimana Rafa dapat melawan infeksinya. Aku pun meminta izin untuk bersama Rafa setidaknya dua jam saja. Dan ketika suster akhirnya membawa Rafa pergi, aku menangis dalam hati.

Suami meraih tanganku.

“InsyaAllah Rafa nggak apa-apa. Kamu pulang saja dan istirahat.”

Setelah hari itu berlalu, selama berhari-hari kedepan aku terus berjuang pumping ASI-ku setidaknya dua jam sekali untuk diantarkan ke rumah sakit. Mamaku sempat menyuruhku untuk tinggal bersama beliau namun ku tolak karena jarak antara rumah mamaku dan rumah sakit sangat jauh. Ada juga keluarga dekat yang terang-terangan menyalahkanku bahwa karena kebodohan dan kecerobohanku, makanya Rafa dirawat di rumah sakit. Saat mendapat kalimat seperti itu, aku hanya tersenyum dan meminta maaf padanya. Dan karena aku juga masih menempati rumah yang disediakan mertua, aku langsung membereskan barang bawaan dari rumah sakit sembari menahan rasa sakitku. Aku tidak ingin membuat kegaduhan yang berujung terkena amarah karena rumah berantakan. Aku tidak ingin seperti saat aku hamil tua dimana mertuaku memarahi kami yang tidak menjaga kebersihan kamar mandi bawah karena khawatir ada tamu datang. Padahal, kami hanya tidak membersihkannya selama seminggu dan kekotoran itu juga disebabkan oleh air yang kuning.

Alhamdulilah perjuanganku dan suami tidak sia-sia. Tepat di hari keempat setelah Rafa di rawat inap, Rafa diperbolehkan pulang.

Teruntuk para calon ibu diluar sana, mari persiapkan mental secara utuh. Tidak hanya mempersiapkan proses melahirkan, tapi juga bersiap mengenai hal-hal tak terduga setelahnya. Aku teringat di salah satu seminar mengenai depresi postpartum di Teman Lahiran, Mbak Dyah berkata,

“Tidak ada ibu yang sempurna. Yang ada hanyalah ibu yang berusaha yang terbaik untuk buah hatinya.”

Bohong apabila aku tidak menyalahkan diriku sendiri atas yang terjadi pada Rafa kala itu. Apalagi kami sangat minim dana sehingga harus memutar otak bagaimana menutupi biaya pengobatan Rafa yang sangat besar. Menunggunya dirumah juga membuatku frustasi. Apalagi beberapa kali Dokter Maria memberitahukan bahwa Rafa menangis keras. Tapi kalau aku jatuh, maka Rafa tidak akan baik-baik saja. Aku berusaha memaafkan diriku meski sekelilingku mengutukku dan menghinaku. Aku terus berusaha mengkomunikasikan segala apa yang kurasakan pada suamiku. Alhamdulillah Allah begitu baik karena menganugerahkan suami yang kuat mendampingiku dan menyemangatiku. Mungkin jika tidak ada dirinya, aku bisa memilih mengakhiri hidupku sendiri. Suami berusaha menguatkanku dan memberitahuku bahwa semua ini adalah ujian, bukan hukuman dari Allah atas kelalaianku.

Bagi yang pernah mengalami depresi sebelumnya, ketahuilah bahwa kalian lebih beresiko terkena depresi postpartum. Tapi, tidak perlu khawatir. Semua ibu baru juga kesulitan. Tapi, kalian jangan memendam semuanya sendirian. Komunikasi pada orang-orang yang kalian rasa dapat menenangkan kalian. Apabila keluarga tidak dapat menguatkan, maka carilah pertolongan lain. Pada saat itu, aku juga tidak berbicara banyak pada keluarga baik keluargaku maupun keluarga suamiku. Aku hanya memegang tangan suamiku dan curhat pada sahabat-sahabatku.

Kalian juga dapat mengambil hikmah dari kesalahanku. Persiapkan lahiran kalian dengan sebaik-baiknya. Alangkah baiknya sebelum melahirkan, kalian mengikuti kelas-kelas persiapan lahiran seperti kelas menyusui, merawat bayi baru lahir, membuat stock ASIP, dan lain sebagainya. Tapi tetap yang paling utama, persiapkan mental sebaik-baiknya.


Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
100 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Journal of My Postpartum Depression (1): Cara Melahirkan Yang Tak Diinginkan
Next post [Review] The SAEM Iceland Hydrating Toner

One thought on “Journal of My Postpartum Depression (2): Ya Tuhan, Jangan Hukum Anakku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *