349 Views
Read Time:7 Minute, 48 Second
Setelah melahirkan, waktu nyaris 100% tersita untuk Baby Rafa yang berjuang beradaptasi dengan dunia ini. Menemaninya beradaptasi dan membaca bahasa tubuhnya cukup menguras energi fisik dan mental. Secara tidak sadar, aku sudah terkena Baby Blues.

Awalnya, aku maju mundur untuk menuliskan kisahku. Tapi ketika aku menyadari bahwa diluar sana masih kurang kesadaran akan bahaya depresi pasca melahirkan, maka aku memutuskan untuk menuliskannya. Aku termasuk yang beruntung sudah mengetahui hal ini tanpa harus ke psikolog terlebih dahulu, dan memang aku sudah diedukasi duluan bagaimana cara menanganinya saat mengikuti seminar oleh Teman Lahiran.

Rafa terlahir di dunia ini cukup mendadak. Malam itu di hari Jum’at 23 Oktober 2020, aku baru saja melaksanakan akad rumah kedua. Malamnya, aku sudah memiliki jadwal ke dokter kandungan. Tentu saja aku berangkat dengan rasa senang karena dokter mendiagnosa bahwa aku dapat lahiran normal. Dokter Rangga namanya, dokter satu alumni universitasku sekaligus senior teman suamiku menyambutku dengan wajah sumringah dan mempersilahkanku. Namun sesaat setelah beliau melakukan USG di perutku, raut wajahnya berubah seketika. Aku memandangnya dengan wajah bingung. Beliau sempat diam beberapa detik.

“Da, lu minumnya nggak lancar?”tanyanya.

“Hah? Nggak dok. Kenapa?” aku bingung memandang wajahnya.

“Lu… Ngerasa ada yang ngalir nggak atau celana dalam lu basah gitu diperes.”

“Nggak dok. Kenapa?”

Dokter Rangga memutar layar USG hingga berhadapan dengan wajahku.

“Da. Ini ketuban lu udah nyaris nggak ada. Kemarin terakhir lu periksa, ketuban lu level 10. Sekarang cuma di level 3. Ini sisa ketuban lu cuma ada di wajah dedenya sama di atas burung beonya. Coba lu inget-inget ada yang aneh nggak?”

Aku mencoba menerawang apa yang ku alami seminggu kala itu. Mungkinkah keputihan yang ku lihat kala itu adalah air ketuban? Tidak ada rembesan maupun pecah, yang ada hanyalah seperti keputihan biasa.

Dokter Rangga memutuskan agar aku di operasi segera di malam itu juga. Saat sudah ketok palu, aku menangis sejadi-jadinya. Saat itu, kami berdua sungguh minim dana karena mengurus 2 rumah sekaligus dan cek kehamilanku yang tidak lagi ditanggung asuransi. Aku merasa diriku sungguh bodoh dan mulai self-blaming. Saat suami mengurus surat rujukan, aku terus menerus menangis dan meminta maaf pada suamiku. Dengan terburu-buru, kami pulang ke rumah untuk menyiapkan barang bawaan. Saat menyiapkan barang-barang, pihak RS pun sudah menelpon dikarenakan khawatir bayi dikandunganku bermasalah lebih parah. Saat suamiku menyiapkan segalanya, aku hanya menghubungi sahabatku Amel. Aku meminta dukungannya. Aku menceritakan keterpurukanku sambil mengetik kalimat demi kalimat. Aku merasa dia mengerti kondisiku karena dia pun melakukan operasi SC saat melahirkan anaknya dahulu. Dia yang mengerti bagaimana harus bertutur kata padaku dikala aku sedang menangis sejak zaman kuliah.

Akhirnya merasakan pula bagaimana rebahan di atas meja operasi. saat itu sekitar pukul 11 malam, dokter anestesi menyuntikkan bius operasi dan memberitahukan padaku apa yang akan aku alami. Namun ketika obat bius keras mulai terasa, tiba-tiba badanku rasanya seperti lemas. Seluruh tubuhku ku mulai terasa kebas dan kepalaku ku mulai terasa pusing. Penglihatanku perlahan mulai kabur, bunyi alarm detak jantung pun berbunyi. Terucap beberapa kata dari dokter entah apa yang mereka ucapkan aku tak dapat mendengarnya dengan jelas. Penglihatanku pun perlahan menjadi gelap. Terdengar suara pendeteksi detak jantung mulai berbunyi kencang yang perlahan tak bisa ku dengar suaranya. Saat itu aku seperti bermimpi dan sudah tidak merasakan lagi badanku. Namun, aku mendengar sayup suara dari jauh ‘Huda kamu harus hidup. Ayo lahirkan bayi yang ada di perutmu.’. Mataku perlahan terbuka dan aku pun melihat sekelilingku. Ah… Ternyata operasi belum boleh dimulai kalau aku masih tidak sadarkan diri.

Dokter anestesi saat itu terus berusaha mencubit ku, mungkin agar aku tetap tersadar. Akhirnya, aku meminta izin kepada para dokter untuk dioperasi dengan mata tertutup. Lemas, menggigil hebat saat itu aku rasakan. Sekitar 10 menit, tepat jam 11.45 tanggal 23 Oktober 2020 seorang anak bernama Rafardhan Shakeil Sumardi terlahir ke dunia ini. Rafa ditaruh di dadaku hanya sesaat. Tapi ketika melihatnya, justru aku tak bisa menangis haru dan merasa asing. Dokter membawanya pergi keluar untuk diazankan oleh suamiku. Setelah dipindahkan ke ruang observasi, sakit hebat perlahan aku rasakan sesaat setelah melahirkan. Di ruang observasi, aku menggigil sekaligus menahan sakit. Aneh bukan? Padahal aku masih dalam pengaruh bius sekaligus pereda nyeri. Tapi sepertinya tidak mempan bagiku tubuhku. Untungnya, ada pasien di sebelahku yang datang dari klinik ibu dan anak yang sama denganku sehingga perhatianku dapat teralihkan.

Aku masih ingat saat itu, di hari pertama dokter menambahkan dosis biusku sebanyak dua kali hingga yang paling tinggi. Suster yang menanganiku sampai kebingungan karena memang sudah tidak bisa ditambah dosisnya. Aku juga sempat drop parah dan nyaris pingsan di kamar mandi saat hari kedua. Aku kehabisan banyak darah, membutuhkan suplai oksigen, juga tanganku yang sempat bersimbar darah karena bergesernya jarum infus. Lucunya, rasa sakit pasca operasi hanya bisa ditahan dengan obat plester yang terbuat dari bahan dasar ganja.
sehina itukah diriku yang melahirkan dengan operasi?

Mungkin khalayak ada yang bertanya. Bagaimana bisa aku sangat tidak menginginkan lahiran melalui operasi?

Bagi orang-orang yang sudah melahirkan, pasti tau alasannya. Yaa… selain rasa sakit yang teramat sangat dan rasa sakit itu bisa bertahan selama bertahun-tahun, ditambah judgement dari masyarakat. Orangtua maupun Mertuaku termasuk orang yang tidak menerima lahiran SC. Saat hamil, mereka selalu memarahiku saat aku bertanya mengenai persiapan lahiran apabila SC. Karena hal tersebut terjadi berulang kali, aku tau bahwa aku harus melahirkan secara normal atau dunia akan mengutukku. Salah satu dari mereka bahkan terlihat malu dan cenderung menyalahkanku bagaimana bisa aku tidak sadar bahwa aku pecah ketuban. Ketika ada yang bertanya aku melahirkan SC atau normal, pernah dijawab “Lahiran SC. Yaah namanya lagi pandemi.” dengan nada yang tidak enak didengar.

Aku memang salah. Aku tidak menyediakan kertas lakmus karena berpegangan pada omongan orang-orang bahwa pecah ketuban itu ngerembes atau mengalir deras seperti ngompol. Tapi ternyata pada kasusku tidak terjadi demikian. Saat itu, aku hanya merasa keputihan saja yang meninggalkan noda di celana dalam. Tidak ada rembesan di kaki, seperti ingin pipis, ngompol, atau yang kebanyakan orang pahami. Aku sempat berpikir, sehina itu kah aku melahirkan secara SC?

Melahirkan secara SC, menahan rasa sakit yang teramat sangat dan hanya bisa diredakan oleh obat nyeri yang terbuat dari ganja menjadi salah satu penyebab depresi pasca melahirkanku. Mengapa orang terdekatku sendiri menganggapku memalukan karena operasi SC? Apakah anakku harus mati dikandungan dulu yang penting aku usaha lahiran normal? Yaa… aku tau orang lain akan dengan mudah berkata tidak usah mempedulikan. Tapi saat itu aku sedang ditahap sulit untuk tidak mempedulikan. Jawabannya? Entahlah. Rasa sakit yang teramat sangat ditambah segudang masalah yang muncul setelah membuatku berkali-kali lebih sensitif hingga aku memutuskan untuk pergi menenangkan diri dan mengucilkan diriku.

Namun disaat aku sedang sangat jatuh, suamiku tetap setia dan tabah mendampingiku. Berkali-kali dia harus menerima amarahku meskipun ada kalanya dia juga tidak kuat. Sahabat-sahabatku, hingga teman seperguruan yang menyadari kondisiku terus menyemangatiku. Beberapa dari mereka bahkan mengirimkan sesuatu sebagai bentuk dukungan agar aku bisa kuat dan dapat melewati segalanya. Saat itu, suamiku justru berusaha menenangkanku dan berkata bahwa semuanya memang sudah digariskan oleh Allah. Memang ku akui semuanya seperti sudah terencana oleh Allah secara tidak sengaja. Kalau saja hari itu aku sudah masuk RS, mungkin kami tidak dapat akad rumah kedua dan DP hangus. Aku pun tidak berencana puasa dan hanya makan telat karena sibuk di hari itu. Wallahuallam, ternyata jarak dari terakhir kali aku makan dan operasi sudah memenuhi syarat operasi SC yaitu 6 jam.

Dear para ibu, kalian adalah manusia hebat dengan cara apapun kalian melahirkan

Teruntuk para ibu diluar sana yang sudah berjuang keras untuk melahirkan normal tapi juga berakhir di meja operasi, kamu tetaplah ibu yang hebat. Jangan menganggap sia-sia semua perjuanganmu. Tuhan tau yang terbaik untukmu dan si bayi. Kamu juga hebat karena telah melewati operasi SC dengan selamat. Memang sulit untuk menahan omongan masyarakat kita yang masih merendahkan ibu yang melahirkan dengan operasi SC. Jika kamu tidak kuat, menjauhlah dari semua itu. Kewarasanmu lebih penting. Bukankah kamu sudah cukup lelah dengan segudang kerumitan merawat bayi baru lahir?

Aku teringat sesosok wanita yang disebelahku di ruang observasi saat aku selesai dioperasi. Dia menjadi ibu baru yang orang bilang di usia yang kata orang sangat telat, yaitu 34 tahun. Ibu itu bercerita bahwa dia telah berusaha melahirkan secara normal. Dirinya rela di induksi selama tiga hari hingga tidak bisa tidur sama sekali. Saat dirinya sudah tidak kuat dan muntah yang berarti bayinya sudah beresiko dan tidak bisa dilanjutkan, dia pasrah untuk operasi. Ternyata baru diketahui kemudian bahwa air ketubannya sudah hijau. Mendengar kisahnya sungguh membuat bulu kudukku merinding karena membayangkan betapa sakitnya menahan semua rasa sakit itu. Tapi tidak sedikitpun aku melihat raut wajah penyelasan di wajahnya. Aku ingat wanita itu berkata, “Semua sudah ada jalannya. Aku pasrah dan santai aja. Yang penting anakku selamat.”

Teruntuk para ibu yang sedang hamil, melahirkan melalui normal maupun SC sama-sama membuatmu luar biasa. Aku ingat sebuah nasihat dari kelas persiapan melahirkan yang diadakan oleh Teman Lahiran. Saat itu, para peserta diminta membuat road map proses melahirkan. Salah satu hal yang harus dikerjakan adalah mempersiapkan hal apa yang harus dilakukan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat proses melahirkan. Sayangnya, aku mengabaikan hal ini dan tetap bersikeras lahiran normal. Alhasil, aku sempat tidak menerima diriku yang telah melahirkan secara SC. Semoga kamu dapat mempersiapkan road map proses melahirkan seutuhnya.

Bagi yang masih awam, silahkan simak gambar dibawah ini. Barangkali, penyebab rasa gelap di hatimu bukan hanya sekedar baby blues, tapi karena depresi post partum

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
67 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
33 %
Previous post [Video Tutorial] DIY BB Cushion Dengan Efek Cooling dan Glowing!
Next post Journal of My Postpartum Depression (2): Ya Tuhan, Jangan Hukum Anakku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *