97 Views
Read Time:3 Minute, 15 Second

Akhirnya Bulan Ramadhan di tahun 2021 telah dimulai. Disaat orang lain menyambutnya dengan sumringah dan sorak sorai gembira, aku hanya dapat menyaksikan dari balik layar. Seperti tahun sebelumnya, aku harus merelakan diri untuk tidak berpuasa. Tahun lalu, aku sedang hamil dan mengalami mual muntah yang sangat hebat. Tahun ini, Baby Rafa baru berusia 5 bulan dan masih membutuhkan banyak nutrisi akibat ketertinggalan perkembangan tubuhnya.

Ketika rasanya seperti hambar, tiba-tiba Blogger Perempuan Network mengumumkan adanya BPN 30 Day Ramadhan Blog Challenge 2021.

“Wah, sepertinya seru! Apalagi aku memang ingin memulai aktif menulis blog.” pikirku.

Awalnya maju mundur karena kesibukan mengurus Baby Rafa yang cukup menguras tenaga dan mental. Ditambah lagi penyakit depresi postpartumku yang cukup banyak mengambil semangat hidupku. Tapi… bismillah… Aku ingin menantang diriku sendiri dan membuat diriku lebih hidup.

Tantangan di hari pertama yaitu mengenai Arti Nama Blog. Tema di hari pertama saja sudah membuat pikiranku berjalan ke masa lalu. Ditambah lagi nama blog-ku ku akui cukup hora umum, yaitu Satu Sayap. Beberapa pembaca disini pasti bingung. Baiklah… akan aku jelaskan.

Memiliki dua sayap memang sebuah impian. Tapi bagaimana denganku yang hanya memiliki satu sayap?

Aku terlahir di keluarga broken home. Ayahku meninggalkanku saat aku masih duduk di bangku kelas 5 SD. Masih teringat deras bagaimana aku memegang kakinya seraya menangis deras agar ia tidak pergi. Nyatanya hal itu tidak dapat menahannya. Dia lebih memilih wanita itu dan adik tiriku. Di momen itulah salah satu sayapku patah.

Aku tumbuh menjadi seseorang yang selalu di-bully. Baik yang aku sadari, maupun yang tidak. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan mereka yang merundungku. Ku akui memang broken home berdampak besar pada mentalku. Beberapa sikapku juga sangat aneh dan menjengkelkan. Saat itu hampir tidak ada yang berempati padaku.

Dengan hanya memiliki satu sayap, aku merasa sangat sulit untuk terbang. Bahkan, aku berpikir bahwa mustahil bisa menuju langit disana. Aku banyak mendapatkan label karena berasal dari keluarga broken home. Mulai dari si pembawa sial, pembawa kutukan, apabila menikah denganku maka akan rusak pula rumah tangganya, tidak layak dijadikan istri karena tidak punya panutan, dan lain sebagainya.

Dan ketika aku menangis akan semua label itu, mamaku memelukku dengan erat. Dia berkata, “Tunjukkan pada dunia! Bahwa kamu tetap bisa terbang meski hanya dengan satu sayap!”

Ketika semuanya terasa gelap, melelahkan, dan memuakkan hingga aku ingin menyerah, mamaku meminta maaf padaku karena tidak dapat memberikanku keluarga yang utuh. Mamaku berkata bahwa bukan berarti menyerah itu menjadi pilihan. Memang aku terlahir di keluarga yang rusak. Tapi bukankah Tuhan selalu punya cerita yang ingin disampaikan dari latar belakangku?

Mamaku berkata, tugasku di dunia ini adalah menunjukkan bahwa keluarga broken home tidak menghalangi seseorang untuk berkarya dan mendulang prestasi. Broken home tidak berarti kehidupan ini menjadi rusak seutuhnya. Aku harus menjadi salah satu yang berdiri untuk mendukung sesama broken home dan memberitahukan pada mereka akan luasnya dunia. Boleh jadi kita tidak terlahir dari keluarga yang berantakan. Tapi bukan berarti hidup kita pun ikut berantakan.

Wanita dengan satu sayap itu pun berhasil terbang….

Aku telah meraih berbagai prestasi dari SD hingga sekarang. Aku masuk universitas negeri unggulan, dapat beasiswa, hingga mewakili Indonesia di berbagai ajang kompetisi.

Aku berhasil mewujudkan mimpiku untuk membawa mamaku jalan-jalan ke luar negeri, melunasi hutang-hutangnya, hingga membelikannya barang-barang branded. Aku juga telah memaafkan abahku meski dia terus menyakitiku berulang kali.

Mamaku jalan-jalan pertama kalinya dalam 11 tahun terakhir…

Kini, satu sayap yang hilang itu telah tergantikan…

Aku telah menikah dengan dengan lelaki impianku yang selama ini. Dia benar-benar sesuai kriteriaku. Kehadirannya melengkapi hidupku, dan menjadi satu sayapku yang telah hilang sebelumnya.

Terimakasih sayangku. Kamu telah mengganti satu sayapku yang hilang

Maka, blog ini kunamakan satusayap.com sebagai wujud bahwa telah ada seorang anak dengan satu sayapnya berhasil menunjukkan pada dunia bahwa dia pun dapat terbang bebas ke langit biru… Dan sebagai salah satu alasan memulai blog ini…

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Journal of My Postpartum Depression (3): Hantu itu Bernama Bingung Puting
Next post BPN 30 Day Ramadhan Blog Challenge 2021, Day-2: Mengapa Memulai ‘Satu Sayap’?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *